Laman

Selamat Datang Pembaca Yang Budiman

Silakan Tinggalkan Pesan Ataupun Tanggapan Anda di Kolom Komentar, Terimakash

Minggu, 24 April 2011

Instinct Menghindari Saya Dari Serangan Anggota GAM.

          Awal Januari 2004 di PT.MGI TH Plantation, Saya harus cepat2 pulang dari cuti  Natal dan Tahun Baru, karena tugas dan tanggung jawab yang saya emban. Saya dan Manager saat itu sama-sama cuti, maka dari itu sayalah yang harus mengalah  mempersingkat waktu cuti demi kelancaran operasianal di Departemen ( Estate ) yang kami tanggung jawabi. Saat itu saya menjabat sebagai Kepala Kebun / Askep dan membawahi 5 orang staff, 3 Asisiten Devisi, 1 Accounting dan 1 Kasi Tanaman. serta 300 orang karyawan biasa ( Non Staff ). 
          Setiap bulannya saya dan manager yang paling bertanggung jawab dalam pengambilan gaji dari Kantor Wilayah yang nantinya akan kami teruskan kepada Asisten, Accounting , Kasi tanaman dan selanjutnya akan di bagikan kepada semua karyawan. 
          Setelah tiba hari H nya, tepatnya waktu itu hari Jum'at saya harus berangkat ke kantor wilayah untuk mengambil uang. Saya berangkat dari rumah sekitar pukul 13.wib menuju Dermaga dan Pos pengamanan. Dermaga adalah merupakan pelabuhan kecil di lokasi saya bekerja, dimana kami lebih dominan menggunakan transportasi air melalui saluaran Irigasi Kanal Utama ( KUT ) dalam melakukan operasianal lapangan . Di dermaga Danpos ( Komandan Pos ) sudah siap melakukan pengawalan, sementara TIMSUS ( Team Khusus, dan mantan Kopassus ) yang merupakan  Jasa Security degan sistem kontrak sudah berangkat terlebih dahulu pagi hari melakukan pengawalan ke BANK lengkap dengan Senjata Laras Panjang. 
          Entah kenapa setelah berada di dermaga, tiba-tiba badan saya lemas tak berdaya, saya paksakan bangkit berdiri pun tidak bisa. Saya coba berpegangan kepada security yang bertugas disitu, akhirnya saya bisa berdiri tapi seluruh badan saya gemetaran. Saya merasa aneh dengan keadaan itu, sebab sehari-harinya badan saya selalu sehat bugar dan tegap di tambah tubuh saya yang gempal. Kemudian saya ambil posisi duduk kembali dan sejenak berpikir ada apa dengan semua ini, kenapa bisa begini. Apakah ini disebabkan maut BONO yang hampir merenggut nyawaku saat perjalanan pulang Cuti?, tidak, tidak mungkin, walau baru seminggu lebih tapi saya sudah bisa mengatasi dan melupakan sejenak peristiwa itu. Setelah menunggu kira-kira setengah jam, keadaan saya tetap tidak membaik, kemudian saya memutuskan untuk tidak berangkat dan  harus diwakilkan oleh Asisten. Lantas saya menyuruh security memangil ke 3 orang Asisten, tidak lama kemudian mereka pun sampai dan selanjutnya saya jelaskan maksud dan tujuan mereka di panggil. Awalnya Asinten saya keberatan, karena sesuai prosedur Asisiten belum bisa diberi kewenangan ke Kantor Wilayah dalam pengambilan uang gaji karyawan. Tetapi setelah melalui perundingan yang alot dan menghubungi kantor wilayah akhirnya kami sepakat, Dua orang Asisiten  berangkat bernama : Bpk Zulkifli Khairuddin dan Bpk Osparta Saputra, satu orang bernama Bpk Dedy Tanjung tinggal bersama saya.
          Saat hendak mau berangkat, Speed Boad yang sudah disiapkan ngadat dan membutuhkan waktu setengah jam memperbaikan. Setelah mereka meluncur ( kedua Asisten dan satu Danpos ), saya masih duduk beberapa saat di dermaga dan membuka obrolan bersama Bpk Dedy dan Security yang bertugas disitu. Aneh Bin Azaib, tanpa saya sadari di sela-sela perbicangan, saya sudah berdiri, dengan spontan saya berkata " Bah...koq rasa lemas yang saya alami tadi sudah hilang ? ".Dan tidak lama kemudian sayapun kembali kerumah sambil menunggu ke datangan Uang Gaji Karyawan.
          Setiba di rumah saya nonton Televisi, tetapi tidak bisa konsen, pikiran saya selalu gelisah. Untuk menghilangkan kegelisahan, beberapa kali saya menghubungi Pos Jaga melalui Handy Talki  ( HT ) sekedar menanayakan keadaan situasi lingkungan aman apa tidak. Walau jawaban security aman dan terkendali tetapi dihati saya seperti ada yang mengganjal, tidak biasanya seperti ini. Sekitar Dua jam berada di rumah dan selama itu juga merasa gelisah dan akhirnya saya memutuskan untuk mendatangi Pos Jaga dan menunggu Uang Gaji disana. Beberapa waktu saya berada di pos jaga namun rasa gelisah tetap menghantui dan kemudian saya kembali kerumah dan duduk di teras belakang. 
           Sekitar Pukul 18.00 wib tiba-tiba saja seorang karyawan menyamperi saya sambil berteriak, " Pak....ada rampok....ada rampok.....Uang Gaji di rampok ". seketika itu saya lansung tancap gas dengan Sepeda Motor Suzuki TS125 menuju Dermaga, Astaga.......benar adanya, rombongan pengambil Uang Gaji pucat pasi sudah wajahnya, speed boad sudah kemasukan air akibat bocor oleh terjangan peluru, Jari tangan Timsus ( Bpk Mehdi asal Jambi ) terluka kena mesiu dan Senjata Laras Panjang yang dipegangnya juga kena peluru saat membalas tembakan. Bersyukur tidak satupun peluru yang mengenai tubuh mereka dan Uang Gaji tidak berhasil dibawa perampok.
          Seketika itu saya mengambil tindakan, Malam ini juga Gaji harus dibagikan ke karyawan kalau tidak Perampok akan menyerang Ruang Kantor ( Brankas Tempat Penimpanan Uang ), dan Mandor Satu ( di PT.MGI disebut CONDUCTOR ) menggantikan posisi Asisten menerima dan membagikan Uang Gaji, sementara Security dan semua mandor menjadi pagar betis di sekeliling dermaga untuk antisipasi bilamana ada penyerangan kembali oleh perampok. Selanjutnya saya meminta bantuan ke Kantor Wilayah ( GM ) dan ke Estate Manager lain untuk mengirimkan TIMSUS guna melakukan pengejaran malam itu.
          Sementara pembagian gaji sudah mulai berjalan, rombongan pengambil gaji juga mulai menceritakan krolologi perampokan tersebut. Mendengar kronologi itu secara logika dan berpikir Rasional mereka tidak mungkin lolos dari maut, tapi karena Tuhan masih Memihak dan melindungi mereka, Puji Tuhan....rombongan pengambil gaji bisa selamat bahkan tidak terluka sedikitpun kecuali Jari Telujuk Timsus Bpk Mehdi, itupun karena terkena Mesiu.
          Penggajian malam itupun berjalan aman dan tertib, serta lebih cepat dari biasanya. Sementara itu Timsus dan Security dari wilayah serta dari Estate lain sudah berdatangan, dan melakukan pengejaran walau hasilnya nihil. Besok paginya pengejaran kembali dilakukan dengan menyebar kebeberapa titik. Sebelum menyebar kami terlebih dahulu ke TKP, setiba di TKP bukan main kagetnya, kami menemukan SLONGSONG PELURU BRAND AK47 sebanyak 97 butir. Berdasarkan temuan dan olah  TKP, kami mengambil kesimpulan bahwa pelaku adalah perampok profesional, dan Komandan Timsus bisa memastikan sejata jenis itu adalah milik GAM. 
          Step by step kami mulai mengembangkan penyelidikan dan mencari informasi sebanyak mungkin. Langkah pertama saya adalah mengharuskan karyawan asli orang ( suku ) Aceh untuk di introgasi oleh Timsus. Sebab saat itu karyawan di lokasi kerja saya Orang Aceh asli lumayan banyak berkisar 25 orang yang tersebar di Tiga Afdeling ( Divisi ). Benar saja.....Setelah berbagai macam proses akhirnya terkuak bahwasanya mereka ( Orang Aceh Yang Bekerja Dilokasi Saya ) adalah anggota GAM, mereka sengaja di susupkan dengan menyamar sebagai karyawan untuk memata-matai perusahaan agar lebih mudah melakukan aksinya ( Merampok ). Bahkan salah satu dari mereka ada yang berpangkat PANGLIMA SAGO, bernama FERY yang saat itu mengambil status cuti kerja selama 7 hari. Dan pada saat aksi penembakan Fery inilah yang memegang senjata Brand AK47 dan pengatur strategi serangan. Sedangkan penyandang dana adalah bernama EDY yang saat itu punya warung sembako ( Punya surat izin dari perusahaan membuka warung sembako )
          Saat yang bersamaan ( saat introgasi ) Timsus yang melakukan pengejaran terjadi baku tembak di hutan, namun tidak berhasil menangkap GAM. Selama tiga hari pengejaran di hutan siang dan malam tidak juga membuahkan hasil. Saya pun melakukan koordinasi dengan mengontak pihak Kepolisian di Pangkalan Kerinci sebab dugaan saya mereka ( GAM ) sudah melarikan diri kesana. Dan akhirnya setelah Tujuh Hari anggota GAM tersebut tetangkap EMPAT ORANG di SIMPANG LANGGAM di sebuah warung dengan kondisi kelaparan. Setelah tertangkap ( MASUK BERITA di TPI/MNSC dan INDOSIAR ) anggota GAM tersebut diserahklan ke Kepolisian Pekanbaru. Dan berita yang saya dengar saat itu sebelumnya Tiga Orang dari mereka ber Empat sebelumnya telah berhasil merampok POM BENSIN di JAMBI.
          Sementara semua anggota GAM yang menyusup sebagai karyawan, kami serahkan ke Polsek Sei Guntung-Kabupaten INHIL. Lumayan melelahkan saat itu, namun permasalahan tidak cukup sampai disitu, karyawan menjadi takut kerja dilapangan selama beberapa hari, jika tidak di kawal security. Hmmmm.......kerjaan tambahan Coy!. 
Dan Bpk Zulkifli Khairuddin dan Osparta Saputra mengalami trauma berat, selama sebulan selalu di hantui ketakutan, setiap hari kerja harus didampingi security supaya merasa aman dan malam hari harus selalu ada yang berjaga disekitar kediamannya minimal Dua orang. Alhasil.....setelah memasuki bulan kedua rasa trauma Bpk Zulkifli dan Bpk Osparta pelahan mulai pulih. Dan sekarang Bpk Zulkifli Khairuddin sudah menjabat sebagai ESTATE MANAGER ( saat kejadian perampokan dulu masih Asisiten ( bawahan ) saya  di Perusahaan yang sama PT.MGI TH.Plantation, sedangkan Bpk. Osparta Saputra memilih keluar dan menjadi Pengusaha Sawit, dan Bpk. Dedy Tanjung sudah menjabat Kepala Kebun/Askep di Kalimantan.
          Dari pihak perusahaan yang di wakili Bpk GM. memberikan penghargaan berupa Jam Tangan kepada Bpk. Zulkifli dan Bpk. Osparta. Hingga sekarang saya masih saling kontak dengan Bpk Zulkifli melalui jejaring sosial, sementara dengan Bpk. Osparta belakangan ini sudah kehilangan kontak.
          Saya menulis kisah nyata ini karena saya sadar betul akan KEKUATAN dan KASIH TUHAN, 
Dan saya mencoba ber andai-andai........................................................................!
Andai waktu itu saya tidak punya Instnct, tentu saya akan berangkat............???
Andai waktu itu saya yang berangkat.................................................................???
          
          
          
           
          
           
           

Jumat, 22 April 2011

Si Kakek Azaib & Lolosnya Saya Dari Maut "BONO" Sungai Kampar

          Tanggal 24 Desember 2003 Saya dapat izin merayakan Natal dan Tahun Baru 2004. Sehari sebelumnya saya dan rekan-rekan merayakan Hari Kelahiran saya. Esok paginya tepat 24 Desember 2003 saya berangkat cuti Natal ke Pekanbaru, saat mau berangkat seorang rekan mengingatkan saya agar berhati-hati di perjalanan mengingat Sungai Kampar adalah rute yang sangat membahayakan. 
Sungai Kampar dapat dilalui jika air laut mulai pasang, karena jika surut sungai ini sangat dangkal, di beberapa tempat tertentu hanya sekitar 60cm. Setiap mengalami pasang surut selalu membawa pasir halus yang membuat sungai menpunyai alur yang berpindah pindah dan sulit diprediksi alur mana yang dangkal atau dalam. Sungai Kampar ini juga mengalami penyempitan dibeberapa tempat dan tempat paling lebarnya mencapai kira-kira 1,5 km. Saat mengalami pasang, Sungai ini gelombangnya sangat tinggi, dengan ketinggian gelombang pasang mencapai 6 meter ( menyerupai gelombang Tsunami di Pekanbaru-Riau dinamakan "BONO" ) dan ini terjadi setiap hari dan juga mungkin satu-satunya di Dunia. Gelombang tinggi ini mungkin di karenakan arus gelombang pasang yang masuk ke Sungai Kampar dari dua tempat yang berbeda serta besar dan bertemu dalam satu sungai yaitu Sungai Kampar.
Pagi-pagi sebelum berangkat terlebih dahulu menelepon Isteri saya agar siap-siap menyambut kedatangan saya di rumah. Maklum saat itu saya dan Isteri sudah hampir tiga bulan tidak bertemu ( tidur bersama ) jadi ngga salah dong kalau sang suami di sambut dengan istimewa. ( jadi ingat masa-masa indah dulu ). Dimana jarak tempuh dari Sibekek ( Pulau Muda ) ke Pangkalan Kerinci sekitar 3 jam.
          Sekitar jam 8 pagi saya tiba di pelabuahan Sibekek-Pulau Muda-Kepulauan Riau. Saya masih menyempatkan diri minum kopi setelah membeli tiket sambil menunggu Speed Boat berbahan kayu dari Tangjung Batu menuju Pangkalan Kerinci via Sungai Kampar. Pagi itu minum kopi hangat terasa nikmat dengan hembusan angin yang sejuk. Tidak lama kemudian Speed Boad tiba di pelabuhan, saya dan para calon penumpang lainnya bergegas turun untuk mengambil tempat duduk, sebab tiket tidak disertai dengan nomor tetapi siapa yang duluan masuk saja. Semua calon penumpang berusaha memilih tempat duduk paling belakang untuk menghindari hempasan gelombang. kalau dapat tempat duduk paling depan alamat Pinggang bakanlan rontok dan Bola kecil warisan harus punya pengaman Extra ketat supaya tidak menetas.
            Setelah mendapat tempat duduk dan meletakkan barang sebagai tanda pemilik, saya kembali naik ke Dermaga untuk meneruskan minum kopi sambil menunggu kepastian keberangkatan. Dimana rute perjalanan Speed Boad harus di sesuaikan dengan gelombang pasang air laut, kalau air laut surut Sungai Kampar ini tidak bisa dilalui karena dangkal, bahkan di alur tertentu kedalamannya hanya setinggi lutut orang dewasa.
          Hanya beberapa menit kemudian Operator menginstruksikan agar para penumpang menempati tempat duduk masing-masing karena speed boad akan segera berangkat. mendengar informasi seperti itu saya dan penumpang lainnya memprotes sebab air sungai masih surut , tapi omongan kami tidak di gubris oleh sang nahkoda. Dengan berat hati kami memasuki speed boad, kalau tidak berarti harus menunggu jadwal besok paginya karena speed boad hanya satu kali dalam sehari.
Dengan penumpang berjumlah 72 orang, speed boad yang akan menelusuri Sungai Kampar mulai meluncur. Setelah setengan jam perjalanan yang kami khawatirkan pun terjadi, speed boad yang kami tumpangi terkandas di tengah-tengah sungai. Semua umpatan-umpatan kotor keluar dari mulut penumpang ke Operator ( Cinchau ) speed boad tersebut. Namun demikian kami segera menyadari situasi dalam bahaya dan telah mengancam nyawa. Dengan suasana kacau dan panik kami turun dari dalam speed boad kecuali seorang ibu dan bayinya yang berumur tiga bulan. Dengan kekuatan 70 orang penumpang ditambah nahkoda 3 orang kami mencoba menyeret speed boad ke alur sungai yang dalam namun semuanya sia sia, tidak sedikitpun speed boad begerak yang ada malah masuk beberapa cm terhisap ke dalam pasir. Dengan suasana kacau dan panik seperti itu, masing-masing penumpang memberikan argumen dengan saling membentak satu sama lain baik laki-laki maupun perempuan. Benar-benar suasana semakin panik, karena kami semua penumpang tahu " bahwa belum pernah ada yang selamat sebelumnya jika speed boad terkandas seperti itu ", dan setiap tahun selalu ada korban naas di hantam gelombang BONO Sungai Kampar. 
          Setelah berkutat hampir satu setengah jam ditengah sungai tanpa membuahkan hasil, tiba-tiba seorang laki-laki tua  atau layak di sebut kakek berhasil menenangkan suasana. Si kakek menyarankan kami mendengar dan mengikuti perintahnya, kami semua pun seperti terhipnotis dan nurut apa kata si kakek. Dimulai dari menyeret speed boat dengan mengarahkan haluan ( kepala speed boad ) ke arah datangnya pasang air laut. Dengan sekuat tenaga kami berhasil merubah arah haluan speed boad yang sebelumnya berbalik arah 180 derajat. Setelah itu dengan perintah si kakek kami masuk ke dalam speed boad, dengan posisi bediri di depan haluan si kakek mengharuskan jangan sampai ada yang mencoba menyelamatkan diri dengan mencoba berenang ke arah pinggiran sungai karena percuma, sebab arus di kiri kanan sungai sangat kuat dan bercampur pasir yang justru akan membuat dirimu jadi mayat, dengan serentak kami mengiyakan saja. Setelah itu si kakek memberi arahan kepada nahkoda speed boad  " jika gelombang pasang jaraknya sudah kira-kira 200 meter, mesin harus di hidupkan dengan posisi gigi maju ". Selanjutnya si kakek menyuruh memasang penutup speed boad yang terbuat dari terpal.
          Dengan suasana gundah gulana karena berhadapan dengan maut, para penumpang mengucap serta berdoa meminta pertolongan kepada Tuhan dengan caranya masing-masing. Selain berdoa saya melihat teman penumpang lainnya tingkahnya aneh-aneh, ada yang mengikat badannya dengan jeregen, ada yang menjerit histeris tidak jelas menyebut siapa, ada yang hanya bengong, ada yang menangis meraung-raung dan berbagai macam tingkah lainnya. Entah kenapa saat itu saya sangat tenang, dengan dibawah alam sadar, saya membuka semua pakaian yang melekat dalam badan saya, kecuali pakain dalam ( CD ), dompet dan HP saya satukan dan saya bungkus dengan saputangan kemudian saya ikatkan ke CD dengan harapan jika Speed Boad tidak berhasil meluncur/mengapung saya akan berenang menyelamatkan diri, walau itu mustahil secara logika. Didepan tempat duduk saya seoarng pemuda hendak membuang uangnya ke sungai, dengan spontan tangannya saya raih dan saya bilang STOP jangan lakukan itu, kita harus yakin bahwa kita akan selamat, kemudian si pemuda memasukkan kembali uangnya ke dalam dompetnya.
          Setelah hampir setengah jam berada didalam speed boad, saya mendengar seperti suara gemuruh, penasaran ingin tahu suara apa, kemudian saya bediri dengan menyingkap terpal penutup dan melihat kearah haluan. kebetulan saya berada paling pinggir sehingga memudahkan saya untuk berdiri "Astagaaaaa.......rupanya gelombang pasang yang ketinggiannya mencapai 4 meter sudah mendekat " sementara speed boad yang kami tumpangi terkandas di pasir. Saat berdiri melihat gelombang itu, saya perkirakan jaraknya kira-kira 2 km lagi dari posisi speed boad. Tiba-tiba saya lemas dan terduduk kembali, saya hanya bisa berdoa agar jasad saya nantinya dapat di temukan keluarga saya dan berdoa agar Tuhan mengampuni dosa-dosa saya. Saya berdoa seperti itu karena di pikiran saya saat itu  adalah mati dan mati, tidak sedikitpun terlintas di pikiran saya akan selamat lagi. Pada hal sesaat sebelumnya saya masih bisa memberikan masukan kepada teman supaya optimis akan keselamatan kami. Orang-orang di sekelingling sayapun tidak lagi saya perhatikan, saya hanya berdoa dan berdoa sekhusuk khusuknya.
          Dalam suasana berdoa, saya merasakan seperti ada yang mengombang ambingkan badan saya, dan merefleks mata saya untuk terbuka. Saat membukakan mata saya melihat speed boad sudah terapung diatas air, rasanya seperti di alam mimpi, dan saya coba mencubit lengan saya benar saja sakit, dan seketika itu saya sadar bahwa kami selamat dari maut. Saya mulai memperhatikan di sekeliling saya, ternyata mereka sama seperti yang saya alami yaitu bagaikan di alam mimpi. Setelah saya menyadari terlepas dari maut, saya dan  penumpang lainnya kembali berdoa dengan cara masing-masing. Kali ini saya benar benar meneteskan air mata, dengan ter isak-isak saya berdoa mengucapakan Puji Syukur pada Yang Kuasa.
          Setelah selesai berdoa dan yakin selamat, saya pun mulai mengenakan pakaian saya, Celana, Baju dan juga Sepatu. Lantas saya menenangkan diri dan mencoba menoleh untuk mencari tempat duduk Kakek yang menjadi pemimpin saat Speed Boad terkandas ditengah sungai. Aneh bin azaib, Kakek itu tidak ada saya lihat di dalam Speed Boad. Siapakah Dia gerangan...................................................................................???.
          
             

Kamis, 07 April 2011

Kejujuran Seorang Office Girl Benama FITRI

          Zaman sekarang kejujuran sangat sulit ditemui, apalagi pada kalangan Politikus maupun Pejabat Pemerintahan. Kejujuran yang masih dapat bertahan hanya terlihat pada kalangan bawah, yang didasari dengan pendidikan agama yang baik dan di topang dengan keluarga serta budi pekerti yang tulus.
Tersebutlah seorang gadis bernama FITRI berparas cantik dengan kulit putih  yang bekerja sebagai Office Girl merangkap tukang masak di kantin ( Tempat Makan Khusus Staff ) di sebuah perusahaan Perkebunan PT.MGI TH.Plantation. Selama bekerja tidak pernah terlihat garis kelelehan di wajahnya apalagi terlihat murung. Setiap harinya bekerja tanpa keluh kesah sedikitpun.
Di suatu pagi Fitri membersikan ruangan kantor Manager, dia menemukan kantong plastik kresek berwarna hitam di bawah meja, kemudian Fitri membuka kantong plastik berwarna hitam tersebut, ternyata berisi Uang. Lantas Fitri meletakkan  kembali kantong kresek tersebut ketempat semula yaitu di bawah meja dan memutuskan untuk memberitahu ke Kasi Tanaman " Dede Khairani " . Kemudian mereka bergegas menuju ruang Manager dan ternyata benar kantong itu bersi Uang, Dede Khairani pun tidak mau memanfaatkan situasi, dia justru balik memberitahu ke Accounting " Johan Chandra " perihal kantong plastik berisi uang itu. Selanjutnya Chandra dan Khairani memutuskan untuk memberti tahu ke saya. Dengan bantuan Security yang sedang bertugas mereka menyuruh salah seorang untuk menemui Saya ke rumah, ( Saat itu saya beristirahat di rumah karena hari libur ).
Dengan adanya laporan security, saya pun langsung bergerak menuju kantor. Setibanya di sana saya  membuka membuka kantong kresek tersebut dan mengeluarkan isinya. Kemudian uang tersebut saya putuskan untuk di hitung saat itu juga dan jumlahnya Rp.8.600.000,( Delapan Juta Enam Ratus Ribu Rupiah ).
Setelah selesai menghitung uangnya, kemudian saya menelepon pak Manager " Aris Dianta " yang saat itu lagi berada di Malang karena Cuti dengan menanayakan kemungkinan uangnya hilang atau di letakkan di kantor. Setelah mencoba mengingat ingat beberapa menit pak Aris menjawab " Tidak ada uang yang hilang ataupun di letakkan di Kantor ". Saya pun terus berusaha mendesak agar pak Aris benar benar mengingat Uangnya ada tercecer atau tertinggal dimana. Tapi jawabanya tetap sama  " Tidak ada yang tercecer atau di simpan di kantor ". Pak Aris hanya mengatakan  " Iya MUNGKIN ada tercecer Rp.600,000,- . ???. 
          Nah.....disinilah letak ke imanan kita di uji, dengan kejujuran Gadis Office Girl, Kasi Tanaman, Accounting dan Kepala Kebun , ( Saat itu jabatan saya sebagai Kepala Kebun ),  kamipun di tuntut untuk jujur. Lantas saya bilang ke pak Aris lewat telepon " Ini ada Uang Kami Temukan di Ruangan Bapak Senilai Rp,8.600.000,-. 
          Masih adakah manusia zaman sekarang seperti FITRI seorang gadis Office Girl ?. Mungkin Nilai uang itu bagi orang lain tidak seberapa, tapi bagi seorang petugas Office Girl saya kira itu sudah lumayan besar, jika dibading dengan gaji yang dia terima setiap bulannya dimana pada saat itu ( Tahun 2004 ) hanya menerima Rp.5.00.000,-.Tapi berkat kejujuran Fitri, Uang tersebut utuh saya kembalikan ke Pak Aris setelah pulang dari Cuti.
Saat menulis ini Saya dan Dede Khairani, Johan Candra serta Pak Aris masih berteman di Jejaring Sosial Facebook.


Minggu, 03 April 2011

PEMBUATAN TERAS KONTUR


PEMBUKAAN LAHAN


PEMBUKAAN LAHAN


Perencanaan Tata Ruang dan Tata Letak 
Perencanaan Pembukaan Lahan Secara Fisik.

Hal yang sangat penting diperhatikan dalam pembukaan lahan adalah kesesuain lahan yang akan dibuka untuk budi daya tanaman kelapa sawit.

Perencanaan Tata Ruang dan Tata Letak : 
►   Diperlukan Penelitian Yang Mencakup : 
      1. Topografi
      2. Iklim
      3. Satus dan Tata Guna Lahan
      4. Tanah
      5. Jaringan Saluran Air dan Sungai
      6. Jaringan Jalan
      7. Perkampungan dan Penduduk

Pembukaan Lahan Hutan : 
 ► Tindakan pembukaan lahan harus dilakukan dengan konsep yang tepat dan benar karena merombak sistem    alam menjadi sistem baru yaitu dari yang heterogen menjadi homogen.

Pembukaan lahan dilakukan dengan tanpa bakar ( zero burning ) :
  • Membuka saluran drainase utama
  • Imas dan tumbang
  • Perun dan rumpuk mekanis
  • Memancang
  • Membuat jalur tanam  
PEMBUATAN TERAS KONTUR
Melihat aspek pengawetan lahan dan air, menanam kelapa sawit pada areal berbukit yang sudut kemiringannya diatas 22 derajat adalah kurang memadai. Akan tetapi lahan yang tersedia semakin lama semakin berkurang sehingga penanaman kelapa sawit pada areal berbukit menjadi hal yang wajar diusahakan  dengan tehnik pembuatan teras bersambung ( teras kountur ). 
Penentuan pembuatan teras harus lebih dititik beratkan pada aspek panen. Penentuan jumlah kerapatan teras per ha harus ditentukan dengan terlebih dahulu membuat titik pancang. Pertemuan garis kontur dengan garis kemiringan lahan yang tercuram adalah pada jarak horizontal yang tetap yaitu 7,97 m. Jika jarak antar dua teras yang bersebelahan lebih besar dari 12 m menjauhi garis kemiringan lahan yang tercuram, maka perlu dibuat teras tambahan dengan jarak sekitar 7,3 m. Teras tambahan ini akan terpotong jika kemiringan lahan meningkat dan akan bersatu kembali dengan teras utama. 
Pembuatan teras kontur ini harus dimulai dari teras paling atas, kemudian dilanjutkan teras dibawahnya. Teras kontur dibuat  dengan permukaan yang miring ke dinding teras dengan sudut miring 10 - 15 derajat.  Lebar teras berkisar antara 3 -4 meter 
Pembuatan teras kontur dilakukan dengan menggunakan  buldozer, tanah galian disusun untuk tanah bagian yang ditimbun dengan membentuk sudut 10 -15 derajat.
Demikian Uraian Singkat Ini, Semoga Bermamfaat Bagi Pembaca. 


Gambar Teras Kontur.






                


        

Jumat, 01 April 2011

Berbagi Pengalaman dan Arti Sahabat

          Bulan Maret 1997 saya membaca Iklan lowongan kerja yang di tempel di dinding kampus UNILAK ( Universitas Lancang Kuning ) Pekanbaru - Riau tempat saya menuntut ilmu, yaitu membutuhkan Sarjana Pertanian yang baru lulus untuk di Training selama satu tahun menjadi  "Asisten Manager". Saya sangat senang dan lansung gririm lamaran kerja ke alamat yg tertera di iklan tersebut, maklum coy saat itu kerjaan masih serabutan yang penting bisa menghasilkan Uang dan Halal demi kebutuhan hidup.
          Dua minggu kemudian saya mendapat surat panggilan untuk mengikuti Test Intervew bertempat di kampus UNRI Pekanbaru-Riau. Dan saya pun mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan tekad dan semangat yang tinggi supaya bisa diterima. Dengan berpakaian rapi kemeja putih lengan panjang dan celana hitam, sepatu mengkilat dan  tak ketinggalan minyak rambut plus farvume pinjaman dari tetangga, hehehe.....buka ceki nich. karna saya kurang suka farvume jadi ngga pernah beli, kalau sangat perlu paling minta dari tetangga demi menunjang penampilan.
Setibanya di UNRI saya kaget melihat begitu banyaknya peserta yang akan mengikuti Test Intervew. Saya sempat merasa ragu melihat banyaknya perseta yang mencapai sekitar 700 orang, tapi seketika itu juga saya berusaha membangkitkan semangat dan berusaha percaya diri, sebab saya tahu '' Hambatan terbesar dalam hidup bukan karena orang lain tetapi adalah Diri Kita Sendiri ''. bukan bermaksud menggurui coy tapi ini fakta.
          Sambil menunggu giliran di panggil dan supaya saya tidak tegang, saya mencoba membuka obrolan dengan sesama peserta Test, mulai dengan memperkenalkan diri dengan yang lainnya dan kemudian saya mengobrol dengan salah satu peserta yang bernama Jamin Manik dari IPB bogor, namun perbincangan mulai memanas karena teman tersebut kurang bersahabat dalam berkomuniksi. Namanya hidup harus butuh saling mengghargai bukan? betul ngga Coy....... hasil akhir Jamin Manik Memang tidak Lulus dalam Test tersebut.
          Tibalah giliran saya dipanggil dan saya masuk ke ruangan dengan rasa deg-degan, harap maklum coy soalnya baru pertama sekali menghadapi yang benar-benar Intervew sesuai dengan disiplin ilmu yang telah saya pelajari selama kuliah. Namun dalam hati saya tetap bertekad saya harus diterima dan akan menjawab semua pertanyaan yang di ajukan dengan baik dan benar. Setelah berada dalam ruangan dan berhadapan dengan Tim Pengintervew saya semakin deg-degan melihat yang di hadapan saya semuanya ber warga Negara Malysia yaitu India dan China bernama Bpk Fauzi dan Bpk Fuji dll. Mereka mengajukan pertayaan dengan bahasa malysia bercampur bahasa inggris, dalam hati saya ngumpat '' makjang matilah aku kalau begini '' lain dari apa yang saya bayangkan. Sayapun menjawab dengan sekenanya saja dengan santai dan ringkas karena pertanyaan yang mereka ajukan kurang dapat saya pahami 100%. Saya hanya bisa menganalisa tujuan dari pertanyaannya. Sesi pertanyaan dari Bpk Fauzi dengan menggunakan bahasa inggris, awal awalnya saya masih lancar menjawabnya, tapi lama lama saya pun kewalahan dengan bahasa inggris beliau. Speaking English ???  litle litle sih I can hehehe......
Begitu selesai menghadapi Intervew saya lalu keluar dan bercerita kepada teman peserta sambil merokok dengan mengatakan '' Tak ape-ape lah, Our important responsibility '' .
          Sebulan  kemudian saya mendapat surat yang menyatakan saya diterima dan dalam surat itu sekaligus dibuat surat perjanjian kerja, lokasi kerja dan juga waktu tiba di lokasi . Dengan persaaan senang saya baca surat itu berulang-ulang.
Pada awal bulan Juni saya pun berangkat menuju lokasi kerja dengan pejuntuk di surat tersebut dimana rutenya lumayan rumit saat itu karena menenpuh perjalanan darat satu hari dan menginap di Hotel kemudian dilanjtkan perjalanan air satu hari dengan dua kali bersambung.
Setelah turun dari Speed Boad kemudian saya menuju Hotel yang telah di tentukan untuk menginap sebelum meanjutkan perjalanan berikutnya. Setelah Chek In di Hotel saya didatangi seseorang bernama Aries, dan mengatakan  " Bpk Marga Tampubolon ya, Bpk disuruh ke rumah Pak David '', degan bertanya tanya dalam hati kemudian saya jawab sekenanya '' saya tidak kenal yang bernama Bpk david jadi saya tidak akan mau kesana ''. Saat itu ada perasaan takut karena tempat itu " Sei Guntung " masih asing bagi saya.
Wajar takut coy,..... sebab orang yang belum kita kenal tiba2 suruh nginap di rumah nya, apa lagi tempat itu baru pertama sekali kita datangi.
          Setelah menginap satu malam, besok paginya saya melanjutkan perjalannan, kali ini saya tidak sendiri, saya ketemu dengan satu orang teman  bernama Besman Napitupulu , Kakak tingkat saat kuliah yang sama-sama baru di terima. Perasaan jadi lumayan tenang setelah ada teman menuju lokasi kerja, " Lha iyalah coy...siapa yang tidak merasa senang kalau ada teman dalam satu perjalanan, apalagi lokasi yang akan kita tuju masih sangat asing dan Hutan lagi ".
Dengan menempuh perjalanan air sungai selama tiga jam kami pun akhirmya sampai ke lokasi kerja, dan saya langsung melaporkan diri ke Satpam yang sedang bertugas, kemudian saya diantar menghadap Pak Manager. Saat menghadap Bpk Manager lalu saya ceritakan kejadian di hotel. Dengan penuh wibawa beliau bilang " SAYA YANG BERNAMA DAVID " memang benar saya yang pesan ke petugas hotel, cuma yang dimaksud petugas hotel itu bukan saudara, tapi bernama " AMCO TAMPUBOLON " . Duh coy....ngga kebayang gimana groginya saat itu, muka saya terasa panas pengen cepat cepat keluar dari ruangan. Tidak lama kemudian sayapun diantar oleh petugas ke kamar yang telah di sediakan, dan disitu rupanya sudah ada beberapa teman Training yang sudah nyampe duluan. Dan kami saling mengenalkan diri satu sama lain sambil berbincang-bincang. Saya mulai penasaran dan bertanya tanya dalam hati siapa sih yang bernama AMCO TAMPUBOLON, kenapa tidak ada disini. Tapi saya tetap berpikir positif dan menyimpulkan mungkin belum tiba kelokasi ini. Ternyata benar asumsi saya, Tiga hari kemudian Amco baru nongol di lokasi.
         Beberapa hari kemudian semua yang di terima sudah tiba dilokasi dan kami dibagi dalam beberapa kamar, satu kamar ada yang empat orang ada yang berdua saja, sesuai dengan tempat tidur yang tersedia. Saya dapat kamar yang penghuninya empat diantaranya bernama " YULIUS TRI WIHARMOKO ,HENDIK SETIANTO, FIRDAUS SAMSI  dan saya sendiri. Kami yang di terima berjumlah 25 orang dari berbagai daerah dan Universitas, ada yang dari UNSI XII MEDAN, UNRI, UIR, UNILAK PEKANBARU, INSTIPER YOGYAKARTA UPN dan juga UGM. Dari Universitas di Pekanbaru Riau kami hanya di terima 11 orang saja, saya jadi bangga banget coy,.... gimana tidak bangga ternyata dari sekitar 700 orang yang mengikuti test hanya 11 orang yang diterima.
          Program Training mulai dibagikan ke kami, dimana kami harus mengikuti Program Pelatihan tentang MANAGEMENT LAHAN GAMBUT dan MANAGEMENT PERKEBUNAN KELAPA SAWIT selama Enam Bulan. Semua jadwal tertera mulai dari BANGUN, OLAH RAGA, MAKAN PAGI, MAKAN SIANG MAKAN MALAM DAN TIDUR. Kami adalah angkatan ke II dan di sebut CADET  " baca cedet "
Pada saat malam hari beberapa teman yang berasal dari Jawa membuang sesuatu dari jendela kamar, saya pun penasaran dan pengen tahu apa yang dibuang teman tersebut. besok paginya saya melihat kearah tempat pembuangan, saya hanya mendapati tanah. Tidak puas sampai disitu saya memberanikan diri bertanya, yaa,...betul adanya yang di buang memang tanah. Lantas saya bertanya '' tujuan dan kegunaannya apa ", Dasar saya memang selalu pengen tahu Coy...... Rupanya tujuannya adalah supaya mereka betah dan merasa nyaman seperti berada di jawa.
          Setelah diantara kami mulai akrab, saya mulai mendekati yang membuat rasa penasaran saya, yaitu Amco Tampubolon. Dari hasil pendekatan kemudian saya tahu bahwa Saudara Amco Tampubolon ternyata adek ipar sang Manager Bpk David. Kayak anggota CIA aja coy.... pake selidik selidik segala hehehe,,,. 
Kamipun langsung akrab apalagi kami satu marga, dan satu hal Amco pesankan " jangan sampai orang lain tahu bahwa Amco adek ipar pak manager ( Bpk David )". 
Sebelum perkuliahan resmi di mulai kami diharuskan memilih ketua umum, ketua mingguan dan juga ketua seksi. ketua umum kami terpilih bernama Anwar Sanusi, Seksi Perlengkapan dan dekorasi Amco Tampubolon dan Yuli Pandi sementara saya terpilih sebagai Ketua Seksi Pertanian.Untuk ketua mingguan kami semua dapat giliran secara bergantian. Sebagai bahan lelucon kami memberikan nama panggilan tanpa terkecuali. Maaf  Coy.....dalam tulisan ini tidak layak di tampilkan, soalanya nama panggilan itu semuanya Porno.
Malam hari mulai larut, kejadian dan penampakan sering terjadi baik di dalam kamar maupun di luar ruangan. Salah satu teman sampai keringat dingin melihat penampakan di atas lemari pakaian, dan kejadian itu sering terulang. dan kami tidak jarang berkumpul untuk menghilangkan rasa takut. Bahkan ada yang tidak berani sendiri ke kamar madi di malam hari. Memang lokasi kami itu masih hutan alam belantara yang akan kami ubah menjadi Lahan Perkebunan Kelapa Sawit. kalau di ingat-ingat bikin merinding coy.....
           Minggu pertama kami melakukan Orientasi Lapangan dengan menaiki Loang Boat " transportasi air yang terbuat dari kayu bermuatan 4 -6 penumpang", dalam perjalanan satu Boat  kami berjumlah 4 orang menyelusuri sungai, disamping saya duduk teman bernama Hendik Setiyanto. Sambil melihat kiri-kanan sungai, teman bernama Hendik berbicara ke saya dengan dialeg jawa kental " Pak Togi, disini Kelapa Sawitnya tumbuh subur-subur ya "    sambil menunjuk ke pinggir sungai. Dengan spontan saya ketawa terpingkal-pingkal, sebab yang di tunjuk itu bukan kelapa sawit, melainkan Tanaman Sagu yang tumbuh liar sepanjang sungai. Tapi saya kudu maklum coy....sebab teman tersebut belum pernah lihat tanaman kelapa sawit secara langsung dan kuliahnya pun dari Fakultas Kehutanan di Yogyakarta 
          Dalam menjalani Training hari demi hari Saya dan Amco beserta Yulius semakin akrab dan benar benar menjadi sahabat. kami selalu bertukar pikiran dan saling mensupport bahkan dalam mencuci pakaian pun kami selalu bersamaan.
Satu bulan pertama, kami mulai menerima Uang saku Rp. 250.000,- ( saat training kami belum di gaji, hanya dapat uang saku saja selama satu tahun, plus makan, minun dan perobatan semua ditanggung ). Uang saku pertama, saya kirim ke orang tua sebesar Rp.100,000,- , karena dari awal saya sudah berniat, uang pertama dari perusahaan tempat saya bekerja harus di cicipi Orang Tua saya. Bagus kan Coy....niat saya itu, walau ngga seberapa nilainya tapi niat harus tetap di jalankan demi kebahagiaan orang tua. Kemudian sisa uang saku saya pergunakan buat keperluan membeli Susu Milo, Snak dll bersamaan dengan sahabat Amco dan Yulius.
Duit di saku mulai menipis nich Coy......sebab di antara kami bertiga saya yang paling boros karena saya sendiri perokok berat. Menjelang akhir bulan kedua, saya sudah kehabisan duit, hmmmm,,,,,pusing jutuh keliling Coy...., mikirin beli rokok. Saat-saat seperti ini larinya hanya kesahabat saja, sahabtku Amco dengan Iklasnya memberikan uangnya untuk membeli rokok lengkap dengan nasihat " kurangi merokok bro ".
          Di sela-sela menjalani perkuliahan, saya sebagai Ketua seksi pertanian punya tugas menjalankan program dari Bpk Manager untuk membentuk beberapa kelompok dengan menanam berbagai jenis tanaman sayuran, diantaranya : Kacang Panjang, Timun, Sawi , Buncil dll. Dalam melaksanakan tugas ini saya tidak lepas minta pendapat dan masukan dari sahabat saya Amco dan Yulius. Tidak jarang saya dan Amco berdiskudi mulai dari yang satu pendapat sampai yang beda. Nich Coy....kalau diskusinya sudah mulai beda pendapat dan mengarah ke hal emosional, kami sepakat untuk cari tempat aman ( tidak di dengar orang lain ). Pilihan kami adalah ke lahan tempat bertanam sayur sayuran, disana saya dan amco ngotot-ngototan memberikan argumentasi untuk mempertahankan pendapat masing-masing dengan suara tinggi. Kalau tiba-tiba  teman yang lain datang, saya dan amco sepakat seola-olah  tidak memperbincangkan sesuatu walaupun rasa jengkel antara saya dan amco masih jelas kelihatan di kening, alhasil teman-teman pun tidak pernah ada yang tahu kejadian perang saraf  sering terjadi antara saya dan Amco. Aneh memang Coy..........tapi seperti itulah kenyataannya.
Hari-hari berlalu dengan hanya berada pada lokasi kerja rasa jenuh kadang muncul, karena media hiburan dan sarana komunikasi saat itu tidak ada. Kami hanya bisa terhibur oleh sesama kami, termasuk jika ada perayaan agama baik teman  Islam maupun kami Kristen. Kami saling bahu-membahu dalam membantu dan merayakan bersama dengan perlengkapan seadanya. Walau dalam suasan hutan, tapi kalau masalah dekorasi selalu cepat beres dan wah.....berkat saudara Amco dan Yuli Pandi.
        Bulan November 1997, tiba-tiba berita menyedihkan datang melalui sambungan Radio, saya harus pulang ke Medan karena Bapak saya meninggal dunia. Saya merasa terpukul dan sangat sedih mendengar berita itu, semua teman-teman berusaha memberikan penghiburan, dan sahabat saya Amco dengan cekatan mengedarkan teken lest dan membatu mengurus administrasi demi kelancaran saya pulang ke medan menghadiri pemakaman bapak saya. Dan saya pun bisa menghadiri pemakaman Orang tua tanpa hambatan berarti.
Sepulang dari pemakaman bapak saya, aktivitas kamipun berjalan seperti biasa dan kami saling membatu dan bekerjasama. Saya harus tetap tegar dan harus tetap tegar dalam menjalani Hidup seberat apapun tantangannya.
Hingga saat ini dari kami anggota Training Cadet II yang terdiri dari 25 orang masih berhubungan dengan Intens melalui media Facebook, Twitter, Koprol masih tetap berjalan dengan sahabat saya "AMCO TAMPUBOLON " . Terimakasih Sobat, Salam Sukses dan Tuhan Menberkati.



SAAT PERAYAAN NATAL 1997






        

Senin, 28 Maret 2011

Berani Mati Demi Ibu


Juli 1998 terjadi pergolakan politik di Dilli Timor Timur, sekarang jadi Timor Leste. Berita itu saya tahu setelah mendapat cuti dari Perusaahaan tempat saya bekerja. Sebelumnya saya tidak pernah tahu apa yang terjadi karena setahun kebelakang saya menjalani Training staff ( assistant manager ) di pedalaman Hutan Gambut di Riau yang akan dibuka menjadi Perkebunan Kelapa Sawit. Dimana pada saat menjalai training saya beserta teman2 tidak bisa mengakses informasi dunia luar.
Setelah setahun menjalani training dan dinyatakan lulus, saya mendapat hak cuti selama 12 hari kerja. Saya berangkat dari pedalam hutan gambut dengan pemakai transportasi air ( long boat ) yang terbuat dari kayu menuju daerah kecamatan , Sei Guntung. Kemudian saya melanjutkan perjalan dari Sei Guntung naik Speed Boad menuju ke Pulau Batam. Setiba di Batam saya langsung ke Wartel ( saat itu HP masih langka ) untuk menghubungi keluarga, dari situ baru saya tahu keadaan dunia luar, dimana Indonesia sudah terjadi pergantian presiden dari Soeharto ke BJ Habibie akibat terguling oleh demo besar besaran.
Kemudian saya tahu bahwa pergolakan politik juga terjadi di Timor Leste, dimana pada saat itu Ibu saya sedang berada di sana dan butuh bantuan saya untuk membawa keluar dari Timor Leste ke Indonesia.
Tanpa pikir panjang saya langsung terbang ke Jakarta dari Batam dengan Pesawat Garuda Indonesia. Setiba di Jakarta saya langsung ke Tanjung Priok untuk mencari tiket kapal. Sial adanya, tiket sudah habis terjual dan kapal akan berangkat dua hari lagi, akan tetapi saya tidak pernah putus harapan. Saya berusaha mencari kesana kemari walau hasilnya nihil. Pada hari keberangkatan kapal, saya tetap ke tanjung priok dengan tekad bulat tetap berangkat sekalipun tanpa tiket. Saya mencoba masuk dengan cara mengendap endap, eh...malah tertangkap sama petugas kapal.
Setelah gagal masuk tanpa tiket, saya duduk termenung dengan pikiran terjutu ke Ibuku yang sedang gelisah di Timor Leste. Kemudian saya berdoa dalam hati, supaya Tuhan mengijinkan saya berangkat ke Timor Leste membawa Ibu ke Indosesia dalam keadaan sehat walafiat, saat itu umur Ibu saya sudah 68 Tahun dan sampai sekarang masih sehat walafiat ( Sekarang 81 Tahun ).
Sesaat setelah selesai berdoa, tiba2 ada orang keluar dari kapal dengan memegang tiket di tangan dan langsung menawarkan ke saya dengan setengah harga karena orang tersebut gagal berangkat setelah melihat tayangan televisi di dalam kapal. Dengan spontan saya mengambil tiket dari tangan orang tersebut dan membayar dan lansung berlari menuju kapal, sebab kapal sudah mau berangkat.
Tidak lama kemudian Kapal Tatamailau berlayar mengarungi samudra menuju Timor Leste. Setelah dua hari berlayar saya mendapat informasi bahwasanya kapal tidak di ijinkan berlabuh ke Timor Leste, dan kapten kapal memuruskan berlabuh ke NTT Kupang. Dengan menempuh tiga hari pejalanan saya sampai di pelabuhan Kupang NTT. Dari NTT saya meneruskan perjalanan dengan jalan darat.
Kebingunagn pun sempat melanda saya, karena trayek mobil dari NTT ke Timor Leste tidak ada lagi yang beroperasi akibat pergolakan politik tersebut. Saya dan beberapa orang lainnya dengan tujuan yang sama yaitu ke Timor Leste berunding untuk mencari solusi. Akhirnya kami dapatkan mobil carteran dengan segala resiko, sebab yang punya mobil sudah mengigatkan kami akan bahaya di perjalanan. 
Dengan penjagaan dan pemeriksaan yang sangat ketat diperjalanan semua barang bawaan dan identitas diperiksa satu persatu dengan teliti. Saya sempat mengalami insiden yang menegangkan, sebab KTP saya masih berstatus Mahasiswa. Saya dicuragai sebagai LSM dari Indonesia dan sempat di tahan beberapa jam di Pos penjagaan. Dengan segala upaya saya berusaha meyakinkan para TNI yang bertugas di sana dengan menelepon saudara saya di Timor Leste, alhasil saya bisa melanjutkan perjalanan setelah medapat jaminan bisa berada di Timor Leste selama tiga dari saudara tersebut.
Setibanya di Timor Leste saya melihat suasana sangat mencekam, dimana mana TNI siap siaga begitu juga dengan jam malam. Beberapa bangunan terlihat hancur akibat aksi pemberontak. Selama dua hari di Timor Leste saya berusaha tahu akan sekeliling kota Dili, apa lagi Ibu saya sangat berkeinginan melihat Patung Kristus Raja secara langsung dari jarak dekat sebelum pulang ke Indonesia. Dengan suasana mencekam seperti itu dan perasaan was was saya dan saudara membawa Ibuku berkunjung ke Patung Kristus Raja. Saya sempatkan mengabadikan kunjungan itu dengan mengambil beberapa Photo disana.
kemudian di hari ketiga saya harus pulang ke Indonesia melanjutkan perjuangan hidup.














Minggu, 27 Maret 2011

Hidup tidak perlu kuatir

Hidup ini penuh dengan problematika, yang lajim disebut dinamika kehidupan. Ada masa masa bahagia dan ada saat saat sedih. Saat bersedih ini berawal dari diri kita yang merasa gagal dalam melakukan sesuatu dan  membuat kita sering mengalami depresi, depresi yang berkepanjangan membuat kita Stress, stress mengakibatkan kehilangan keseimbangan dalam mengambil suatu keputusan atau tindakan.
Nah, sebelum ini terjadi mari kita berserah diri kepada Yang Maha Kuasa dan selalu mengucap syukur atas apa yang sudah kita peroleh, niscaya kita akan diberi kelegaan olehNya.
Banyak orang merasa hidupnya tidak berarti baik di keluarga, dilingkungan kerja dan dilingkungannya lainnya. bagaimana membuat hidup kita dari sesuatu yang tidak berarti menjadi berarti?. Kita punya Tuhan bukan ? jika Ya,  mulailah serahkan hidup kita seluruhnya  kepada Tuhan, maka  Tuhan akan mengubah segalanya dari yang tidak berarti menjadi berarti. tapi dengan catatn anda menyerahkan sepenuhnya ke dalam KuasaNya.